5/26/2016

Pengajaran Apa yang Belum Kamu Ketahui

Pengajaran yang sulit dijangkau oleh akal


Ayat ini: "Mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui" (QS. Al-Baqarah: 151) sangat memperkuat akan keberadaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Mengetahui. Al-Quran telah menerangkan hal demikian untuk mempertegas akan kedudukan manusia di hadapan Allah sebagai hamba yang tidak mengetahui apa-apa.

Karena itulah Allah menurunkan seorang Rasul di antara umat manusia untuk mengajarkan apa-apa yang belum diketahuinya. Ayat tersebut secara keseluruhan berbunyi demikian:

"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui" (QS. Al-Baqarah: 151).

Banyak hal yang selama ini tidak diketahui, atas kemahabaikan Allah, pada akhirnya diterangkan oleh Allah melalui Rasul-Nya saw. Berbagai persoalan hidup dan kehidupan umat manusia di dunia ini, juga di akhirat kelak, tetap tidak dapat diketahui jika tidak ada keterangan dari Allah melalui Rasul-Nya saw.

Ayat tersebut sangat jelas, bahwa tak ada seorang pun jika Allah tidak menurunkan Rasul-Nya akan memahami atas apa yang Allah kehendaki dalam penciptaan langit dan bumi, termasuk penciptaan umat manusia di dalamnya. 

Kehadiran umat manusia di muka bumi tidaklah didasarkan atas keinginan manusia itu sendiri, melainkan karena Allah menghendaki atas kehadiran mereka. Untuk apa, mengapa dan bagaimana yang sesungguhnya Allah telah berbuat demikian?

Sekali lagi, bahwa apa yang sesungguhnya Allah kehendaki tidak dapat diketahui jika tidak diturunkan seorang Rasul untuk menerangkannya. Karena itu, seorang Rasul telah diperintahkan, sebagaimana tersebut pada ayat di atas, untuk membacakan ayat-ayat Kami (Kami adalah Allah dalam kedudukan sebagai Tuhan yang memiliki kekuasaan untuk mendatangkan Rasul-rasul-Nya).

Dengan ayat-ayat-Nya, Allah hendak menerangkan dari apa yang belum diketahui umat manusia. Sangat jelas, bahwa ayat-ayat Allah tidaklah selalu mudah untuk dipahami selain harus diterangkan oleh Rasul-rasul-Nya. Hal demikian telah diterangkan oleh Allah sendiri di dalam Al-Quran:

"Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal" (QS. Ali Imran: 7).

Dari ayat tersebut di atas, jelas bahwa ayat-ayat Allah itu terdapat dua keadaan: 1) Muhkamaat; 2) Mutasyaabihaat. Dan, dari dua keadaan tersebut, juga ada dua kelompok umat manusia, terutama dalam merespon kedua keadaan ayat-ayat Allah tersebut, yakni 1) Orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan; 2) Orang-orang yang mendalam ilmunya.

Siapakah yang disebut orang-orang yang mendalam ilmunya itu? Al-Quran sendiri telah memuat perkataan Allah terkait orang-orang yang mendalam ilmunya dengan firman-Nya:

"Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim" (QS. Al-'Ankabuut: 49).

Jadi, hanya orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah di dada  yang dapat menerangkan ayat-ayat-Nya. Bukan orang-orang zalim yang hatinya condong kepada kesesatan. Merekalah para utusan (rasul) di antara umat manusia (orang-orang beriman) yang hatinya bersih dari kesesatan.

Seorang utusan yang dihadirkan oleh Allah sesudah Nabi yang mulia saw adalah orang yang hatinya selalu berzikir, bertafakur, bertasbih dan senantiasa berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Baik ketika duduk, berdiri maupun berbaringnya selalu dilakukan karena ketundukan dan kepatuhan kepada Allah dan Rasulullah saw.

Al-Quran menyebutnya Ulil Al-Bab (orang-orang yang berakal):


"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil al-bab (orang-orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Ali Imran: 190-191).

Karena itu, Anda jangan terburu-buru untuk menjadi terkejut dengan istilah utusan (rasul) yang dimunculkan di sini. Saya hanya untuk menjelaskan bahwa kerisalahan Nabi Muhammad saw tidak boleh berhenti, selain harus ada di antara umatnya untuk tetap menegakkan agama Allah.

Orang-orang yang terpilih untuk melanjutkan kerisalahan Nabi saw adalah dari umatnya sendiri. Allah menyebutnya dengan "Ulul Amri minkum." Penghargaan Allah untuk mendudukkan seorang hamba-Nya sebagai "Orang yang Patut untuk Diikuti," bukan tidak beralasan.

Mengapa Allah menunjuk seorang hamba sebagai "Orang yang Patut untuk Diikuti"? Karena dia telah benar-benar berjuang di Jalan Allah hingga Allah rida kepadanya. Keridaan Allah bukan ditentukan oleh ukuran-ukuran kecerdasan otak manusia, melainkan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah sebagaimana yang telah diterangkan di dalam Al-Quran.

Bagi orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah, maka dia akan mengikuti Allah dan Rasul-Nya saw yang sudah ditulis di dalam Kitab-Nya (Al-Quran).

"Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami"." (QS. Al-A'raf: 156) 

Selanjutnya Allah berfirman:

"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. Al-A'raf: 157)

Kemudian, Allah pun mempertegas kembali:

"Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk"." (QS. Al-A'raf: 158).

Maka, sangat jelas atas keterangan Allah dalam 3 (tiga) ayat tersebut di atas, bahwa orang-orang yang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah saw, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kitab-kitab-Nya akan beroleh keberuntungan (mendapatkan petunjuk) dari Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.

Mereka, dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 5, adalah orang-orang yang bertakwa, yang karena ketakwaannya, Allah menegaskan:

"Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung" (QS. Al-Baqarah: 5). 

Bagaimanakah mereka menjadi orang bertakwa, sehingga Allah rida memberikan petunjuk yang dimelekatkan pada jiwanya?

Al-Quran yang mulia (Al-Karim) telah menegaskan, bahwa Allah telah memberi perintah kepada orang-orang beriman untuk mencari wasilah dalam menjalankan pendekatan diri kepada Allah untuk meraih ketakwaan. Bersama wasilah itu, Allah memerintahkan untuk berjuang (jihad) di Jalan-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantaraan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan" (QS. Al-Ma'idah: 35).

"Secara teknis operasional" dalam menjalankan pendekatan diri kepada Allah untuk menjadi orang bertakwa adalah dengan menyucikan jiwa. Tentang hal ini, Allah Yang Maha Baik lagi Maha Mengetahui isi hati telah bersumpah:

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)," (QS. Asy-Syams: 1-7).

Dengan sumpahnya tersebut, Allah menegaskan:

"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannyasesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (QS. Asy-Syams: 8-10).

Sumpah Allah pada ayat-ayat-Nya tersebut telah memberikan kepastian:

  1. Orang-orang yang menyucikan jiwanya akan beroleh keberuntungan, yakni Allah mengilhamkan ke dalam jiwa tersebut Ketakwaan (jalan menuju takwa);
  2. Orang-orang yang mengotori jiwanya akan beroleh kerugian, yaitu Allah mengilhamkan ke dalam jiwa tersebut kefasikan (jalan kegelapan).

Adakah cara yang dapat mengantarkan jiwa menjadi bersih (suci) selain dari berzikir di dalam hati (khafi)?

Sulit untuk menolaknya, bahwa berzikir di dalam hati, sebagaimana Allah memerintahkannya di dalam Al-Quran, adalah cara terbaik untuk menyucikan jiwa. Berikut adalah perintah Allah untuk berzikir di dalam hati:

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" (QS. Al-A'raaf: 205).

Bagaimana jika menyucikan jiwa dengan ibadah yang lain, salat, misalnya? Adakah yang dapat menolak ayat Allah berikut ini, bahwa di saat salat dan sesudah salat pun telah diperintahkan kepada orang-orang beriman untuk berzikir?

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku" (QS. Thahaa: 14).

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman" (QS. An-Nisaa: 103). 

Perkara ini (berzikir di dalam hati) hampir jarang diperhatikan, selain dipandang bahwa berzikir itu adalah tidak merupakan rukun Islam.

Kapankah orang-orang beriman bersungguh-sungguh akan mengingat Allah di hati? Bukankah Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu telah mengingatkan?

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik" (QS. Al-Hadiid: 16).

Sangat beralasan sekiranya orang-orang yang suka berzikir hatinya bertambah tenteram karena hanya Allah yang diingat di dalam hatinya. Tidak ada persoalan yang singgah di dalam otaknya, selain akal pikirannya senantiasa memperhatikan hatinya berzikir, bertasbih dan berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28).

"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS. Al-Fath: 4).

Adalah kebijaksanaan Allah jika telah dihadirkan seorang ahli zikir di antara mereka yang benar-benar berzikir. Allah pun sangat meridainya, bahkan Dia (Allah) telah menetapkan di dalam Al-Quran:

"Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada ahli zikir (orang yang diberi ilmu), jika kamu tiada mengetahui" (QS. Al-Anbiya: 7). 

Tags: ,

Ditulis oleh

Penulis adalah Imam Majelis Dzikir Tawashow siap memberikan pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahui akal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Popular Content

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28)

Recent Post

Dapatkan Pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan Laduni Robbaniyah

Apa, Mengapa dan Bagaimana MAJELIS DZIKIR TAWASHOW?

Copyright © MAJELIS DZIKIR TAWASHOW| Designed by Templateism.com