11/24/2017

Makna Hidup dalam Keterbatasan Pemahaman

Makna Hidup dalam Keterbatasan Pemahaman

Adakah yang dapat memahami apa makna hidup yang telah ditetapkan oleh Allah swt? Jawabnya dapat beragam tergantung dari cara mendekatinya. Makna hidup sangat mudah diterangkan dengan kemampuan cara mendefinisikannya untuk masing-masing orang. Akan tetapi, pemahaman orang takkan sama jika sumber rujukannya tidak sama. 

Jika Al-Quran yang dijadikan rujukan, maka makna hidup tak lebih hanya untuk menjadi hamba (pengabdi) kepada Allah Yang Maha Pencipta. Dihidupkan atau diciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. 

Memaknai hidup tidaklah berarti mengartikan istilah hidup itu sendiri, melainkan memberikan makna pada kehidupan. Jika hidup dapat dimaknai, itu berarti seseorang hidup di dunia ini akan dapat menjadikan hidup sejalan dengan kehendak Allah, yakni menjadi abdi-Nya atau hamba-Nya.

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzuriyat: 56)
Menyembah kepada Allah berarti memosisikan jin dan manusia tunduk dan patuh kepada-Nya. Seseorang yang tunduk dan patuh kepada Allah, dia adalah seorang hamba Allah yang sebenar-benarnya hamba.

Pemahaman yang Keliru

Masih banyak keliru dalam pemahaman bahwa semua orang adalah hamba Allah. Pengetahuan akan kedudukan seorang hamba bukanlah karena kedudukan Allah sebagai Tuhan dan manusia sebagai makhluk yang diciptakan.

Akan tetapi, kedudukan itu (hamba Allah) akan benar disandang oleh seseorang apabila dia merasakan  atas eksistensinya sebagai seorang makhluk harus tunduk dan patuh kepada Allah.

Apabila rasa itu telah diperkuat dengan segala perkataan dan perbuatannya menunjukkan akan takutnya kepada Allah, disertai dengan rasa cinta kepada-Nya yang tak terpisah dari jiwanya dalam kehidupan, maka itulah hamba Allah yang selalu taat atas segala perintah dan larangan-Nya.

Berbuat Terbaik Mengikuti Kehendak Allah

Untuk mengubah pencitraan kepada Allah bahwa seseorang adalah hamba-Nya, maka tak dapat tertolak agar berjuang untuk berbuat terbaik mengikuti kehendak Allah.

Untuk mengetahui cara berbuat yang terbaik karena Allah, silakan baca: Berbuat Terbaik Karena Allah

Hal  ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap keberadaan dirinya di hadapan Allah. Seseorang tidak dapat berbuat mengikuti hawa nafsunya, melainkan Allah sangat mengetahuinya.

Berbuat terbaik bukanlah sebagaimana yang diinginkannya, tetapi perbuatan baik itu harus diniatkan karena Allah dan dilakukan hanya berharap ganjaran dari Allah swt. Bukan dilandaskan atas tendensi ingin dipuji oleh manusia.

Membersihkan Hati

Jalan satu-satunya yang harus ditempuh untuk mendapat penilaian terbaik dari Allah adalah membersihkan hati dari penyakit (hati).

Kondisi hati yang bersih dari keangkuhan, ketamakan, kesombongan, ria (pamer ingin dipuji), 'ujub, hasad (dengki) dan lain-lain penyakit hati akan dapat mempengaruhi cara ibadah seseorang kepada Allah.

Bagaimanakah cara untuk membersihkan hati itu, silakan Anda baca: Zikir Khafi: Strategi Perang Melawan Hawa Nafsu

Proses penyucian jiwa melalui zikir khafi (tersembunyi di dalam hati) membutuhkan pembimbingan secara khusus oleh seorang ahli zikir.

Sesungguhnya dalam berzikir terdapat efek-efek yang dapat menimbulkan perubahan terhadap jiwa seseorang yang berzikir, yakni hati menjadi tenang.

Perubahan-perubahan tersebut secara teknis harus dilakukan dalam menghadapi gangguan, jebakan, rayuan, hasutan, godaan dan serangan dari makhluk-makhluk jahat yang menjadi musuhnya.

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 208).

Karena itu, bersama seorang wasilah (ahli zikir), para pezikir bergabung bersama untuk diajarkan menghadapi gangguan dan godaan setan yang terkutuk.

Silakan baca: Adab Orang Berzikir Kepada Allah

Dengan berjuang yang semacam itulah, setiap jiwa akan segera dapat memahami makna hidup sebagaimana yang Allah kehendaki.
Tags: ,

Ditulis oleh

Penulis adalah Imam Majelis Dzikir Tawashow siap memberikan pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahui akal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Popular Content

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28)

Recent Post

Dapatkan Pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan Laduni Robbaniyah

Apa, Mengapa dan Bagaimana MAJELIS DZIKIR TAWASHOW?

Copyright © MAJELIS DZIKIR TAWASHOW| Designed by Templateism.com