10/23/2016

Inilah Tugas Kaum Takwa dalam Memberikan Nasehat

Inilah Tugas Kaum Takwa dalam Memberikan Nasehat

Sesungguhnya tugas yang harus diemban oleh kaum takwa sangat berat. Keluasan kasih sayang Allah yang telah sampai kepada orang-orang bertakwa mengharuskan untuk saling berbagi di dalam kebenaran dan kesabaran. Tugas ini bukanlah merupakan beban, melainkan Allah sangat menghendaki rasa sayang kepada orang-orang beriman harus tertanam dalam jiwanya. 

Penugasan itu untuk semakin memperkuat kedudukan orang-orang bertakwa menjadi semakin bertakwa (haqqa tuqatih). Putusnya ketakwaan seorang hamba sangat kontroversial. Maka, atas perintah dan keridaan Allah, menjalankan tawashow (nasehat menasehati) bagi kaum takwa tidak dapat terhindar. 

Penganugerahan karunia kepada mereka dalam wujud petunjuk sangat membantu pelaksanaan tugas tersebut. Dengan petunjuk, tugas menasehati orang-orang beriman takkan menemukan kesulitan, selain harus menghadapinya dengan penuh kesabaran, Membangunkan kesadaran atas pribadi orang-orang beriman harus dilalui dengan Al-Hikmah dan pengajaran yang baik.

Memberikan Nasehat di dalam Kebenaran

Inilah tugas kaum takwa setelah rasa keberimanannya kepada Allah diperkuat dengan keistiqamahan berbuat kebajikan (amal saleh). Yaitu memberikan nasehat di dalam kebenaran. Dalam kedudukannya sebagai seorang penasehat, maka petunjuk yang telah diturunkan oleh Allah akan memberikan kemampuan menerangkan kebenaran ayat-ayat Allah.

Petunjuk yang telah ditetapkan oleh Allah di dalam jiwanya itu termaktub di dalam Al-Quran:

"Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, Mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS, Al-Baqarah: 5).  
Tugas yang diemban oleh orang takwa mengantarkan orang-orang beriman agar juga menjadi orang bertakwa. Akan menemukan kesulitan bila dilakukan oleh orang-orang yang belum bertakwa menasehati orang untuk bertakwa.

Maqam atau kedudukan seorang hamba bukan seperti yang diduga oleh kebanyakan manusia. Andalan yang digunakan mereka dalam menilai kapasitas seseorang berkedudukan sebagai penasehat lebih kepada kredebilitas ilmu pengetahuan (agama) yang dimilikinya, Tidak berdasarkan kepada keutamaan-keutamaan (tingkat ketakwaannya).

Orang-orang bertakwa bukanlah didudukkan oleh manusia, melainkan Allah-lah yang mengangkat derajat mereka. Setidaknya, Allah telah memberikan apresiasi atas perjuangannya di jalan Allah.
  1. Secara istiqamah melakukan proses penyucian jiwa (tazqiyatun nafs);
  2. Beriman kepada perkara gaib;
  3. Mendirikan (bukan sebatas melaksanakan) salat;
  4. Mengeluarkan sebahagian rezeki;
  5. Beriman kepada Al-Quran dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya;
  6. Meyakini akan adanya akhirat;
  7. Tidak meragukan sedikit pun atas ayat-ayat Allah;
  8. Diajarkan Al-Quran, Al-Hikmah, dan apa yang belum diketahuinya oleh Rasulullah saw secara langsung;
  9. Berkedudukan sebagai ahli zikir;
  10. Diberi ilmu oleh Allah di dada, bukan di otaknya;
  11. Telah berjumpa dengan Allah (makrifat);
  12. Menyeru ke jalan Allah dengan Al-Hikmah dan pengajaran yang baik.
Allah bukan tidak membolehkan orang tua yang menasehati anaknya, guru mendidik murid-muridnya, atau Anda menasehati kerabat dan handai taulan. Hanya saja, nasehat menashati itu tidak menjadikan seseorang yang telah merasa mampu menasehati tersebut:
  1. Lupa akan dirinya;
  2. Tidak pernah bermohon ampunan;
  3. Merasa dirinya sudah menjadi orang benar;
  4. Berpenyakit hati;
  5. Jauh dari Allah karena hatinya cenderung kepada kesesatan;
  6. Berorientasi hanya pada apa yang dipikirkan;
  7. Hubbuddunya
  8. Tidak mau memerangi hawa nafsunya.
Hal tersebut menjadi sangat penting untuk tidak asal-asalan (yang penting dapat menasehati). Terhadap kebenaran, nasehat seseorang harus didasarkan atas kehendak Allah yang telah sampai kepada dirinya. Bukan mengikuti hawa nafsunya.

Kebenaran itu milik Allah, bukan milik pemikiran dan hawa nafsu. Al-Quran diturunkan ke dalam hati Nabi yang mulia saw atas seizin Allah. Bukan ke dalam otaknya. Keterangan-keterangan yang keluar dari mulut beliau bukan keluar dari hasil pemikirannya. Hati Nabi suci. Allah-lah yang telah menyucikan hati beliau.

Dengan Al-Quran, Allah hendak menerangkan melalui apa yang sudah diterangkan oleh Rasulullah saw kepada segenap umat manusia untuk diimani dan diyakini akan kebenarannya. Jangan diragukan, selain harus diikuti dengan sepenuh keyakikan melalui perantaraan seorang waliyyan mursyida (pemimpin atau imam yang dapat menunjuki).

Melalui perantaraan beliau, orang-orang beriman seharusnya belajar dan diajarkan kebenaran Al-Quran, diajarkan Al-Hikmah dan diajarkan dari apa yang belum diketahuinya. Dengan pertolongan Allah, beliau dapat menyucikan jiwa orang-orang beriman yang hatinya masih condong kepada kesesatan.

Baca:
  1. Pengajaran Al-Quran di Majelis Dzikir
  2. Pengajaran apa yang belum diketahui
  3. Penyucian Jiwa Melalui Zikir Khafi
  4. Kebenaran Itu Milik Allah Bukan Milik Produk Pemikiran

Memberikan Nasehat di dalam Menetapi Kesabaran

Inilah persoalan besar orang-orang beriman sepanjang zaman. Mereka selalu tidak mampu bersabar menghadapi ujian dan cobaan hidup di dunia yang fana ini. Allah sat telah berfirman:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun." Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. Al-Quran: 155-157).
Karena itu, menjadi seorang penasehat kebenaran, dengan berbagai persyaratan yang harus ditempuhnya, juga harus memiliki jiwa kesabaran. Tanpa kesabaran dalam menegakkan kebenaran, maka takkan dapat meraih kesempurnaan berkah, rahmat dan petunjuk dari Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.

Orang takwa, dengan kedudukannya tersebut, telah meraih maqam ketakwaannya melalui proses perjuangan yang ditempa dengan banyak ujian dan cobaan. Ini adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Bergegas untuk menasehati orang bukanlah tujuan yang dinginkan oleh orang-orang takwa, melainkan karena Allah telah menghendakinya. Berjuang untuk selalu mendahulukan kehendak Allah adalah kemelakatan sifat dasar orang-orang takwa. Allah-lah yang telah menolong mereka karena kesungguhannya dalam berjuang di jalan-Nya yang lurus (thariqin mustaqim).

Itulah sebabnya ber-tawashow di dalam menetapi kesabaran hanya akan mudah dilakukan oleh orang-orang sabar. Orang takwa adalah orang yang sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan.

Tags: , ,

Ditulis oleh

Penulis adalah Imam Majelis Dzikir Tawashow siap memberikan pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahui akal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Popular Content

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28)

Recent Post

Dapatkan Pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan Laduni Robbaniyah

Apa, Mengapa dan Bagaimana MAJELIS DZIKIR TAWASHOW?

Copyright © MAJELIS DZIKIR TAWASHOW| Designed by Templateism.com