10/25/2016

Zikir Khafi: Strategi Perang Melawan Hawa Nafsu

Zikir Khafi: Strategi Perang Melawan Hawa Nafsu


Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar...terus bersuara di dalam hati. Sang Pezikir dengan penuh bersemangat mendengarkan kalimat-kalimat yang mengagungkan Allah sebagai Tuhannya. Tanpa henti, dia menebarkan Cahaya Ilahi melalui zikir khafi ke seluruh anggota tubuhnya. Bergetar jiwanya karena Allah telah meridainya. Bisikan setan telah dihancurkan dengan takbir, tahmid dan tahlil. Iblis laknatullah 'alaih  lari tunggang langgang. Strategi perang melawan hawa nafsu telah dimulai.

Perjuangan mengendalikan hawa nafsu merupakan perang besar yang tak pernah berhenti. Sejak yang mulia Rasulullah saw menerangkan kepada para sahabat yang telah tiba dari perang Badar, bahwa perang besar adalah perang melawan hawa nafsu. "Jihadul akbar jihadun nafs," kata Nabi saw. Maka, bagi umat Rasulullah saw, mengendalikan hawa nafsu mutlak harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. 

Tanpa perjuangan dengan sungguh-sungguh, maka tak ada seorang beriman pun berhasil terhindar dari berbuat jahat. Allah swt telah berfirman:

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Yusuf: 53).
Berperang melawan hawa nafsu menjadi wajib bagi orang-orang beriman yang sangat mendambakan turunnya rahmat Allah ke dalam dirinya. Adakah setiap diri mengenali siapakah yang sesungguhnya dirinya itu? Inilah the big problem yang selama ini tidak disadari oleh kebanyakan kaum mukmin.

Allah sesungguhnya sangat menghendaki, melalui firman-Nya itu, agar mengenali diri sendiri, jauh sebelum mengenal diri orang lain. Perbuatan untuk mengenali diri dimaksudkan agar eksistensinya sebagai seorang manusia dapat menyesuaikan dengan apa yang menjadi kehendak Allah.

Jika diri, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, sesungguhnya tidak dapat melepas dari kesalahan dan, karena itu, selalu mengajak berbuat buruk, apa yang akan terjadi akan kehadirannya sebagai seorang manusia? Dapat dipastikan, bahwa manusia tersebut selalu diliputi oleh kecenderungan berbuat jahat selama hidupnya.

Lalu, bagaimana jadinya jika hal tersebut dibiarkan tanpa berjuang untuk memerangi kejahatan hawa nafsu? Itulah sebabnya setiap diri agar segera menyadari untuk bermohon ampunan kepada Allah tanpa henti. Kodrat hawa nafsu tercipta dengan ketetapan hukum Allah yang melekat pada setiap manusia.

Oleh karena itu, betapa pun cerdas otak manusia, jika tidak segera memerangi hawa nafsu, maka manusia itu dapat terseret pada kedudukan sebagai manusia jahat. Naudzu billahi min dzalik.

Zikir Khafi: Strategi Perang yang Ditawarkan Allah

Sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, Allah telah menawarkan sekaligus memberikan perintah untuk berlindung kepada-Nya dari godaan setan yang terkutuk. Hawa nafsu manusia pada hakikatnya merupakan kontributor terbesar yang dimelekatkan oleh Allah menyuruh untuk melawan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah.

Diciptakan hal demikian pada keberadaan manusia, sesungguhnya Allah hendak menguji mana di antara manusia yang benar-benar beriman kepada-Nya. Diberinya kenikmatan, pandangan indah dan kecerdasan otak untuk berbuat di dalam kehidupan di dunia ini. Berpikir, mengkhayalkan, menghitung, mengoperasionalkan setiap hal yang ada di dalam kehidupan, sekali lagi, menjadi ujian bagi manusia atas keberadaannya sebagai seorang makhluk Allah.

Allah sangat menghendaki kehadiran manusia di muka bumi untuk memakmurkannya, bukan untuk membuat kerusakan, Maka, dengan penganugerahan akal pikiran, seharusnya manusia dapat memahami apa yang menjadi kehendak Allah. Tetapi, kenyataannya, tidak mencukupi atas diri manusia untuk memahami apa yang menjadi kehendak Allah.

Dengan kodrat dan iradat Allah, maka Dia (Allah) menempatkan kasih sayang pada Diri-Nya sendiri untuk dapat dicurahkan kepada siapa yang sangat mengharapkannya. Tawaran-Nya ini, tentu saja, sebagai wujud atas keluasan kasih sayang-Nya. Tak ada kebaikan, selain Dia-lah yang mencurahkannya.

Baca: Kepedulian Allah Kepada Para Pezikir

Zikir khafi sebagai strategi perang melawan hawa nafsu merupakan tawaran terbaik dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang berharap terbebas dari gangguan dan bisikan setan yang terkutuk.

Ini merupakan salah satu adab berdzikir kepada Allah.

Tentu saja, zikir khafi bukanlah amaliah yang dilakukan sesuai keinginan hawa nafsu. Justru zikir khafi dijalankan untuk memerangi hawa nafsu sesuai dengan apa yang telah dikehendaki oleh Allah di dalam al quran.

Zikir khafi harus dilakukan pada setiap keadaan dan waktu, baik dalam keadaan berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring di waktu pagi, siang, petang dan malam tanpa henti.

Hal yang paling utama harus diperhatikan dari zikir khafi adalah hadirnya kesadaran akan eksistensi manusia yang secara kodratiah tidak dapat melepas kesalahan dari diri (nafsu). Sesungguhnya nafsu itu selalu cenderung mengajak berbuat jahat.

Akan tetapi, Allah telah menyatakan bahwa Dia (Allah) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Rahmat Allah akan dicurahkan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Persyaratan pun muncul bagi yang berharap meraih kasih sayang-Nya. Allah akan menurunkan rahmat-Nya bagi orang-orang beriman yang menyadari dan mengakui atas segala kesalahan dan dosa-dosa yang telah diperbuatnya lalu memohon ampunan dengan tidak lagi mengulangi serta mengadakan perubahan-perubahan.

Bermohon ampunan dengan kalimat astaghfirullahal 'adhim disertai salat taubatan nasuha. Itikad untuk berubah menjadi tidak melakukan pelanggaran dan dosa syarat dimulainya untuk mengharapkan rahmat Allah.

Itulah zikir melawan hawa nafsu. Memohon ampunan kepada Allah dengan menyebut kalimat astaghfirullahal 'adhim akan dapat menenangkan jiwa. Hal ini harus dilakukan dengan secara ikhlas di dalam hati. Inilah zikir hati -- zikir yang dilakukan di dalam hati.

Dimaklumi bahwa kecenderungan nafs tidak berubah, selain harus diperjuangkan dengan cara mengendalikannya, maka berzikir di dalam hati (zikir khafi) secara istiqamah pada akhirnya mutlak dilakukan. Menyeru asma Allah secara tersembunyi (zikir di dalam hati) sebagai strategi perang untuk melumpuhkan kecenderungan menyuruh berbuat jahat. Cara ini sekaligus untuk mengusir jin kafir yang biasa bersembunyi di dada manusia untuk membisikkan kejahatan.

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" (QS. Al-A'raaf: 205).
Tags: , , , , , , ,

Ditulis oleh

Penulis adalah Imam Majelis Dzikir Tawashow siap memberikan pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahui akal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Popular Content

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28)

Recent Post

Dapatkan Pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan Laduni Robbaniyah

Apa, Mengapa dan Bagaimana MAJELIS DZIKIR TAWASHOW?

Copyright © MAJELIS DZIKIR TAWASHOW| Designed by Templateism.com