7/03/2017

Terlahir Atas Kehendak Allah Bukan Atas Keinginan Diri (Nafsu) Manusia

Terlahir Atas Kehendak Allah Bukan Atas Keinginan Diri (Nafsu) Manusia
Terlahir atas kehendak Allah

Kalaulah kita renungkan kembali atas keberadaan manusia di muka bumi, maka tak ada seorang pun yang mengetahui mengapa dia dilahirkan. Yang kita ketahui adalah Allah telah menghendaki atas lahirnya seorang yang disebut Fulan atau Fulanah. Kita terlahir atas kehendak Allah.

Itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Sangat jelas dan sulit kita menolaknya.

Kehendak Allah di dalam Al-Quran telah banyak kita baca.

Akan tetapi, persoalan yang lahir kemudian (setelah menjadi dewasa) adalah banyak di antara mereka LUPA terhadap kodrat dan iradat Allah akan kehendak-Nya menciptakan manusia.  Segala hal terkait dengan kehadirannya di dunia ini lebih banyak disandarkan pada keinginan dirinya sendiri (hawa nafsu).

Padahal, Allah swt telah berfirman:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" (QS. Adz-Dzariyaat: 56).
Lihatlah bagaimana Allah telah menetapkan penciptaan jin dan manusia, sebagaimana tersebut pada ayat di atas, bahwa tak ada tujuan lain selain untuk menyembah Dia (Allah).

Itulah kehendak Allah di dalam Al-Quran dalam menciptakan manusia (juga jin) di muka bumi ini. 

Jika satu ayat ini benar-benar diperhatikan, maka tak ada seorang manusia pun yang menghindar dari apa yang menjadi kehendak Allah di dalam Al-Quran. Kenyataan berkata lain, bahwa perhatian itu telah lepas dari pandangan hidup kebanyakan manusia.

Allah Hendak Menguji

Mengapa telah terjadi demikian? Mengapa banyak umat manusia yang tidak mengikuti kehendak Allah di dalam Al-Quran?

Inilah yang menjadi kehendak Allah di dalam Al-Quran berikutnya, yakni Allah hendak menguji di antara manusia yang benar-benar beriman kepada-Nya.

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu," (QS. Al-Ma'idah: 48).

Dan, itu pula yang ditakutkan oleh langit, bumi dan gunung-gunung yang telah menolak amanah Allah. Telah diterangkan oleh Allah bahwa:

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Al-Ahzab: 72-73).
Pikiran manusia yang tertumpu pada keinginan hawa nafsu akan dapat menganiaya (menzalimi) dirinya sendiri. Jika tak beranjak dari niat untuk mengubah dari keangkuhan diri, maka di situlah letaknya kebodohan manusia.

Diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, manusia bodoh tetaplah tidak bergeming dari takut kepada Allah. Mereka tetap tidak beriman.

Cukuplah bagi Allah akan menimpakan azab bagi laki-laki dan perempuan munafik dan laki-laki dan perempuan musyrik. Kecuali bagi kaum mukmin yang bertobat, Allah pasti akan mengampuninya.

Allah Sangat Menghendaki Orang Beriman Menjadi Bertakwa

Apa lagi yang menjadi kehendak Allah di dalam Al-Quran? Apakah dengan pengakuan keimanan dapat dipastikan akan mengikuti kehendak-Nya?

Pengakuan keimanan saja ternyata tidak cukup karena banyak di antara mereka yang tidak mengikuti kehendak Allah selain selalu memperturutkan hawa nafsunya.

Oleh karena itu, Allah sangat menghendaki orang beriman menjadi bertakwa agar dapat diketahui mana yang benar-benar beriman dan mana yang hanya mengaku-aku beriman.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri" (QS. Ali Imran: 102).
Dengan mengenali kehendak Allah, maka peluang untuk berjuang di jalan Allah akan lebih mudah. Sebaliknya, jika hanya selalu berusaha memenuhi keinginan hawa nafsu, kesiapan untuk memosisikan menjadi hamba Allah akan sangat terasa beratnya.

Itulah sebabnya, perjuangan untuk memenuhi kehendak-Nya jangan ditunda-tunda hingga tak ada lagi waktu yang dapat digunakan. Penyesalan akan selalu hadir jika Allah telah menetapkan kehendak-Nya diturunkan teguran.

Mencari Wasilah

Perjalanan hidup kaum mukmin tak lepas dari aturan-aturan Allah. Bagi siapa pun yang mengikuti aturan Allah berarti dia telah berjuang di jalan-Nya.

Perjuangan orang-orang beriman untuk menjadi bertakwa telah ditetapkan oleh Allah, yakni telah diperintahkan oleh Allah dengan aturan sebagaimana pada ayat berikut:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan" (QS. Al-Ma'idah: 35).
Kehendak Allah di dalam Al-Quran ini sangat mutlak untuk diikuti oleh orang-orang beriman.

Tidaklah disebut orang beriman jika masih tidak mengindahkan apa yang menjadi kehendak Allah. Perbuatan mengikuti kehendak Allah merupakan perwujudan dari ketaatan kepada-Nya.

Mengapa harus ada wasilah untuk berharap menjadi orang takwa?

Belajar kepada orang bertakwa yang sebenar-benar bertakwa adalah aturan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk orang-orang beriman yang berjuang di jalan-Nya. Aturan Allah sudah sangat jelas.

Musykil bagi orang yang belum bertakwa dapat dijadikan sebagai wasilah (perantaraan) dalam proses pembimbingan menuju kepada-Nya. Allah telah menerangkan di dalam kitab-Nya bahwa orang bertakwa itu:

"Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung" (QS. Al-Baqarah: 5).
Mereka adalah orang-orang yang telah berjuang di jalan Allah dengan sungguh-sungguh melalui proses penyucian jiwa, yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahuinya.

Silakan baca: Penyucian Jiwa

Itulah yang sesungguhnya menjadi kehendak Allah di dalam Al-Quran dalam penciptaan jin dan manusia di muka bumi ini. Bahwa Allah sangat menghendaki jin dan manusia menjadi orang bertakwa yang sebenar-benar bertakwa kepada-Nya. Mereka tunduk dan patuh kepada Allah.
Tags: , , ,

Ditulis oleh

Penulis adalah Imam Majelis Dzikir Tawashow siap memberikan pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahui akal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Popular Content

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28)

Recent Post

Dapatkan Pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan Laduni Robbaniyah

Apa, Mengapa dan Bagaimana MAJELIS DZIKIR TAWASHOW?

Copyright © MAJELIS DZIKIR TAWASHOW| Designed by Templateism.com