12/17/2017

Al-Hikmah: Cara Bijaksana Allah Memperkenalkan Diri-Nya

Al-Hikmah: Cara Bijaksana Allah Memperkenalkan Diri-Nya


Al-hikmah bukanlah sebuah konsep yang harus dipelajari, melainkan merupakan cara bijaksana Allah untuk memperkenalkan Diri-Nya. 

Bagaimana ini maksudnya?

Anda akan menemukan kesulitan untuk memahami al-hikmah sekiranya belum dianugerahi oleh Allah al hikmah. 

Karunia yang banyak akan dianugerahkan oleh Allah kepada Anda apabila Dia telah rida kepada Anda. 

Keridaan Allah sangat mengait dengan keikhlasan Anda dalam beribadah kepada-Nya. 

Karena itu, nilai keikhlasan menjadi sangat penting bagi kaum mukmin yang berharap Allah menganugerahkan kebijaksanaan-Nya.  


Memahami Al-Hikmah

Apa itu al hikmah?

Al-hikmah adalah kebijaksanaan Allah yang diberikan kepada seorang hamba yang sangat tulus mengikuti apa yang menjadi kehendak Allah.

Apa saja yang diberikan oleh Allah dengan al-hikmah itu? 

Jawaban Allah ada di dalam ayat-Nya berikut ini:

"Allah menganugerahkan al-hikmah (pemahaman yang mendalam tentang Al-Quran dan banyak hal lainnya) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (QS. Al-Baqarah: 269).

Kekuatan jiwa seorang hamba dalam menjalin hubungan dengan Allah berbuah Allah menurunkan al-hikmah.

Dengan al-hikmah, seseorang yang sebelumnya tidak tahu tentang perkara-perkara yang tidak dapat dijangkau akal-pikiran akhirnya  menjadi tahu.

Dari sebelumnya tidak pernah melihat akhirnya dapat melihat.

Mengetahui apa dan melihat apa?

Banyak hal yang tidak dapat dijangkau oleh pemahaman akal pada umumnya.


Allah Memperkenalkan Tanda-tanda Kekuasaan-Nya

Orang-orang yang tidak mengetahui kebingungan ketika menyaksikan apa yang diperbuat oleh seseorang yang telah dianugerahi oleh Allah al hikmah.

"Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin." (QS. Al-Baqarah: 118).

Tanda-tanda kekuasaan Allah merupakan kebijaksanaan Allah yang diturunkan kepada seorang hamba melebihi dari apa yang sulit akal menjangkaunya. 

Contohnya Ibunda Maryam (ibu dari Nabi Isa a.s) yang mendapatkan makanan dari sisi Allah yang membuat Zakaria keheranan sampailah dia berkata kepadanya, sebagaimana telah tertulis dalam al quran:

"Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." (QS. Ali Imran: 37).

Cerita itu dikisahkan kepada Nabi Muhammad saw dengan kalimat-Nya sebagai berikut:

"Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa." (QS. Ali Imran: 44).
  
Adakah berita gaib itu tertolak oleh Nabi Muhammad saw? Anda pasti tahu jawabannya.

Berita gaib juga telah sampailah kepada Rasulullah saw, bahwa Ibunda Maryam diajarkan oleh Allah Al-Kitab, Al-Hikmah, Taurat dan Injil.

"Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil." (QS. Ali Imran: 48).
Bukankah Ibunda Maryam itu bukan seorang nabi, mengapa Allah mengajarkan kepada beliau sebagaimana layaknya seorang nabi?

Inilah jawaban Allah:

"Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." (QS. Ali Imran: 42).
Subhanallah, itulah tanda-tanda kekuasaan Allah dianugerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki.


Allah Menganugerahkan Al-Hikmah Kepada Siapa Dia Kehendaki 

Pertanyaan besar muncul, siapakah yang dikehendaki oleh Allah itu hingga Dia rida menganugerahkan al hikmah? 

Jawabnya adalah orang-orang berakal (ulul albab).

Ulul albab itu tidak menunjuk kepada cerdasnya otak seorang hamba, melainkan pada hatinya yang selalu terjaga dari mengingat Allah, bertasbih dan selalu berlindung kepada Allah.

Hatinya ikhlas mengikuti yang Allah kehendaki, yakni ketika Allah berfirman: 

"Sebutlah nama Tuhanmu di hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut..." (QS. Al-A'raaf: 205).

Tanpa henti orang-orang berakal selalu berzikir, tafakur, bertasbih dan berlindung kepada Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran: 190-191).

Itulah perkataan Allah yang tak tertolak akan kebenarannya. Ayat-ayat Allah itu nyata. 

Adakah anugerah al-hikmah itu hanya cukup dianugerahkan saja tanpa diajarkan lebih lanjut? Allah telah menerangkan bahwa Rasulullah saw mengajarkan al quran dan al hikmah kepada siapa umatnya yang telah mendapatkannya.

"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 151). 
Melalui pengajaran al-hikmah -- juga pengajaran al quran dan pengajaran yang tidak diketahui oleh umatnya -- itulah Rasulullah saw mengantarkan umatnya untuk mengenali Tuhannya azza wa jalla.

Cara Bijaksana Allah Memperkenalkan Diri-Nya

Sebagai Tuhan Yang Maha Mengetahui, Allah telah menetapkan untuk memperkenalkan Diri-Nya kepada segenap umat manusia. Akan tetapi, pada kenyataannya, sangat sedikit jumlahnya orang-orang yang beriman sangat berhasrat untuk menjumpai-Nya.

Bagi mereka (orang-orang beriman) yang peduli akan firman Allah berikut ini pasti akan diantarkan oleh Allah jalan menuju kepada-Nya:

"Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya" (QS. Al-Kahfi: 110).   

Beramal saleh dan tidak syirik dalam beribadah kepada Allah bukanlah konsep pemikiran manusia, melainkan kehendak Allah yang harus didekati dengan keluasan ilmu-Nya.

Tanpa petunjuk dan bimbingan ilahiah, maka banyak kaum mukmin yang terjebak oleh hasutan hawa nafsu.

Beribadah juga bukan produk pemikiran manusia selain harus diperjuangkan dengan apa yang menjadi kehendak Allah yang telah diturunkan melalui Rasulullah saw -- Al-Quran Al-Karim.

Di dalam al quran, Allah telah menerangkan banyak hal yang harus diikuti secara istiqamah. Seperti contoh ibadah salat.

Allah telah menegaskan bahwa:

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-'Ankabut: 45).

Antara perintah dan larangan Allah telah diturunkan  dalam satu ibadah. "Dirikanlah salat" sebagai perintah Allah dan "Mencegah atau jangan berbuat keji dan mungkar" adalah larangan Allah.

Keduanya harus benar-benar dipatuhi.

Jika hanya salah satu saja, yakni menjalankan perintah Allah, sedangkan apa yang dilarang oleh Allah tidak dipatuhi, maka berarti nilai ibadah salat itu tidak sebagaimana yang Allah kehendaki.

Apa takwilnya?

Salat yang tidak berdampak positif adalah sama dengan salat tidak memiliki nilai ganjaran dari Allah.

Salat yang dijalankannya lebih cenderung mengikuti hawa nafsu daripada yang seharusnya diikuti sebagaimana yang dikehendaki Allah.

Salat itu belum mencapai pada hakikat salat, selain baru sampai dapat mengerjakan salat tanpa nilai ganjaran yang berbobot. Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana hanya memberi pahala seberat biji (zaroh).

Hal inilah yang masih banyak belum disadari.

Karena itulah Allah memberi perintah kepada kaum mukmin untuk berjuang di jalan Allah membersihkan dari berbagai penyakit hati karena rongrongan hawa nafsu.

Kata Nabi saw, "Jihadul akbar, jihadun nafs" -- Perang terbesar adalah perang terhadap hawa nafsu.

Dengan kata lain, menyucikan jiwa untuk memerangi hawa nafsu menjadi kunci utama dalam beribadah kepada Allah.

Hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah. Merekalah, sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya, orang-orang yang dikehendaki oleh Allah hingga Allah rida menganugerahkan dan mengajarkan al hikmah.

Dan, Allah pun rida memperkenalkan Diri-Nya. 
Tags: , , , , ,

Ditulis oleh

Penulis adalah Imam Majelis Dzikir Tawashow siap memberikan pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahui akal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Popular Content

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28)

Recent Post

Dapatkan Pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan Laduni Robbaniyah

Apa, Mengapa dan Bagaimana MAJELIS DZIKIR TAWASHOW?

Copyright © MAJELIS DZIKIR TAWASHOW| Designed by Templateism.com