8/31/2018

Pengajaran Al-Quran di Majelis Dzikir Tawashow

Pengajaran Al-Quran di Majelis Dzikir Tawashow

Jika ada seseorang yang membacakan ayat-ayat Allah, maka dia bukan sedang mengajarkan Al-Quran, selain sedang mengagungkan firman (perkataan) Allah. Lalu apa yang dimaksud dengan Pengajaran Al-Quran?

Pengajaran, dalam hal ini, mengandung muatan mendidik, menuntun, membimbing, mengarahkan, memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah, merahmati (mencurahkan kasih sayang), melindungi, mengevaluasi, mendoakan, mengizinkan atau tidak mengizinkan melakukan suatu perbuatan dan mensahkan suatu keadaan hati atau jiwa seorang murid (salik) telah dianggap bersih untuk diikuti dalam beribadah kepada Allah swt. 

Pengajaran Al-Quranul Karim dilandaskan dengan suatu kondisi yang semacam itu. Bukan digunakan untuk sesuatu tujuan yang lain.

Adakah Al-Quran hingga saat ini benar-benar telah digunakan untuk kebutuhan mengajarkan atas kebenaran yang telah diturunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya saw? Bergantung dari masing-masing orang beriman menanggapinya. 

Al-Quran sudah sangat jelas sebagai "Hudan" atau petunjuk dan "Bayyinat" atau keterangan-keterangan (tentang petunjuk itu) bagi manusia, dan "Al-Furqan" atau pembeda (antara hak dan batil). 

Mengajarkan Al-Quran berarti menunjuki sekaligus menerangkan serta mampu membedakan antara hak dan batil kepada umat manusia, terutama bagi orang-orang beriman.

Karena itu, mengajarkan Al-Quran tidak sekedar membacakan ayat-ayat tanpa berjuang untuk menyucikan jiwa (tazkiah) seseorang yang sedang diajarkan Al-Quran. 

Di sini, pengajaran Al-Quran menuntut orang yang mengajarkannya (Al-Quran) harus benar-benar sudah bersih hatinya atau jiwanya dari berbagai penyakit hati atau jiwa. 

Silakan baca: Penyucian Jiwa

Karena yang diajarkan adalah Kitab Suci. Bukan bacaan biasa, melainkan bacaan yang mulia (Al-Quranul Karim). Ini sangat penting untuk dipahami. Tidak asal mengajarkan tetapi tidak mengetahui tujuan dari pengajaran itu ("Untuk apa?").

Akankah menjadi penting jika Al-Quran diajarkan dengan tujuan seperti itu? Tentu saja sangat penting. 

Mengapa menjadi sangat penting Al-Quran diajarkan untuk mendapatkan petunjuk dan mampu membedakan antara hak dan batil? Karena itu adalah tujuan diturunkannya (Al-Quran). 


"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)"  (QS. Al-Baqarah: 185).

Al-Quran diajarkan bukan untuk memberatkan orang yang diajarkannya, melainkan diantarkan agar dapat melepaskan beban-beban penyakit (hati) yang telah berakar, sedemikian hingga benar-benar bersih atau suci dari rongrongan iblis laknatullah 'alaih.

Mengajarkan Al-Quran, membacakan ayat dan menyucikan jiwa adalah sejalan dengan diturunkan seorang rasul dari kalangan umat Rasulullah saw. 


"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui" (QS. Al-Baqarah: 151).

Allah swt menurunkan Al-Quran dan Rasulullah saw untuk diikuti dengan penuh keimanan. Mengikutinya berarti menaati akan perintah-Nya. Allah ditaati atas perintah-Nya, juga mengikuti Rasul-Nya saw berarti telah dicatat sebagai seorang hamba yang telah menaati Allah dan Rasul-Nya saw. 

Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya akan terus dilanjutkan sekali pun beliau telah jauh dari umatnya yang lahir kemudian. Maka, bagi Allah sangat mudah untuk mendatangkan beliau agar mengajarkan kepada umatnya yang telah diridai oleh Allah swt. 

Dari situlah Allah menghadirkan umat Rasulullah saw yang mendapatkan pengajaran langsung dari beliau saw. Anda jangan bingung karena Allah telah menerangkan di dalam Al-Quran: 


"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki" (QS. Ali Imran: 169).

Pada ayat lain, Allah juga telah berfirman: 


"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Baqarah: 154).

Umat Rasulullah saw yang lahir kemudian tetap mendapatkan pengajaran langsung dari yang mulia Rasulullah saw sebagai hak atas umatnya yang tidak meragukan akan kebenaran firman Allah swt. Keyakinannya sangat kuat. 

Jika ada orang yang bertanya mengapa Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada umat Rasulullah saw yang sangat kuat keyakinannya, Allah telah berfirman: 

"Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin" (QS. Al-Baqarah: 118).

Anda yakin atas firman Allah atau Anda tidak yakin, Allah tetap akan menunjukkan dan menerangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kaum yang yakin. 

Orang yang tidak meragukan sedikit pun ayat-ayat Allah di dalam Al-Quran, maka sesungguhnya dia orang yang bertakwa. 

Persoalannya adalah sejauh mana yang disebut seseorang telah yakin itu? Adakah keyakinan itu hanya sebatas dilisankan saja, sedangkan hatinya tak bersuara apa-apa selain masih meragukannya? 

Itulah fakta, banyak kaum mukmin yang masih jauh meyakini kebenaran Al-Quran. Percaya? Ya, mereka percaya. Tetapi, untuk meyakini bahwa Rasulullah saw masih hidup dan mengajarkan langsung kepada umatnya yang hadir saat ini, sulit untuk menerimanya dengan penuh keyakinan dan keimanan.  Jika tidak ragu, maka orang-orang beriman seharusnya akan mendatangi orang-orang yang telah diajarkan langsung oleh Rasulullah saw.

Ah, masa sih? Itulah, sekali lagi, fakta jika saat ini keragu-raguan atas kebenaran firman Allah bertambah kuat. Maka, tak heran jika ada sejumlah orang yang pandai atas segala pembahasan tentang syar’iyyah, tetapi untuk mendapati adanya keutamaan meyakini akan kebenaran firman Allah di dalam dada, terasa masih sulit untuk memperjuangkannya.

Jika telah disebutkan, bahwa hati adalah ‘bejana’ yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk diperjuangkan agar dapat menerima cahaya-Nya, bagi mereka tetap terasa amat berat untuk menerimanya. Maka, juga tak heran, jika masih terasa berat bagi mereka untuk mengamalkannya apabila Allah dalam firman-Nya telah memerintahkan: 

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”(QS. Al-A’raaf: 205) 

Itulah indikasi bahwa tingkat keyakinan orang-orang beriman terhadap isi (ayat-ayat) Al-Quran masih rendah. Artinya, tingkat keragu-raguan mereka menjadi sebab setan untuk menggoda, masih sangat tinggi. 

Jadi,  bagaimana mengajarkan Al-Quran dalam kondisi jiwa (hati) yang semacam itu?

Keimanan dan ketakwaaan adalah suatu derajat (maqam) seseorang hamba di hadapan Allah swt, yang dengan itu telah didudukkan sebagai seorang hamba yang dimuliakan oleh Allah. 

Sebaiknya Anda baca artikel ini: Cara Meraih Keimanan dan Ketakwaan Kepada Allah

Berada di dalam kondisi suatu jiwa yang dihimpun kemuliaan oleh Allah sangat berbeda dengan kondisi yang sebaliknya. Yaitu suatu keadaan jiwa yang sangat direndahkan atau dihinakan oleh Allah.

Sangat boleh jadi, seorang hamba yang tingkat intelegensinya sangat kuat (jenius) akan mampu menjelaskan hal-hal yang sangat mengait dengan wacana keislaman. Mereka sangat menguasai ilmu-ilmu keislaman dari berbagai kitab yang dipelajarinya, walaupun didapatkannya dari keterangan-keterangan seorang ahli ilmu kalam. 

Namun, apabila di dalam hatinya sangat keras membatu tidak berzikir, maka sesungguhnya mereka belum memahami apa yang Allah kehendaki atas dirinya. Sedangkan, apa yang diinginkannya untuk saling berbagi atas keilmuannya, justru semakin kuat.

Keinginan diri untuk berbuat kebaikan didahulukan, sementara kehendak Allah untuk berzikir di hati diakhirkan. Berpikir untuk pengembangan keislaman sangat dihargai, tetapi Allah sangat menghargai orang-orang yang selalu mengikuti apa yang Allah kehendaki. 

Bagi mereka yang selalu mendahulukan kehendak Allah, maka Allah sangat menyukainya.   
--------------
Dalam pengajaran al quran ini ada 3 (tiga) penjabaran mencakup:




Tags: , , ,

Ditulis oleh

Penulis adalah Imam Majelis Dzikir Tawashow siap memberikan pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahui akal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Popular Content

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28)

Recent Post

Dapatkan Pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan Laduni Robbaniyah

Apa, Mengapa dan Bagaimana MAJELIS DZIKIR TAWASHOW?

Copyright © MAJELIS DZIKIR TAWASHOW| Designed by Templateism.com