9/18/2018

Cara Mencapai Derajat Taqwa

Cara Mencapai Derajat Taqwa

Adalah Allah telah menetapkan di dalam Al-Quran untuk orang-orang beriman agar menjadi orang-orang yang benar-benar bertaqwa kepada-Nya. Adakah, dari Al-Quran, Allah telah menerangkan cara mencapai derajat taqwa? Alhamdulillah, di dalam Al-Quran Allah telah memerintahkan kaum mukmin cara mencapai derajat taqwa dengan wasilah.

Perintah Allah kepada orang-orang beriman agar bertaqwa sebenar-benar bertaqwa kepada-Nya adalah:

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri." (QS. Ali Imran: 102).

Sedangkan ayat yang menjelaskan cara mencapai taqwa dengan wasilah adalah:

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al-Ma'idah: 35). 

Mengapa Harus Bertaqwa? 

Ini adalah pertanyaan yang sepatutnya dapat direnungkan oleh orang-orang beriman, mengapa Allah telah memerintahkan agar benar-benar bertaqwa kepada-Nya.

Derajat taqwa, tentu saja, adalah suatu jenjang yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai capaian tertinggi yang jika sampai pada kedudukan (maqam) tersebut, maka orang bertaqwa berkedudukan mulia di sisi-Nya.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13).

Sesungguhnya Allah tidak menghendaki orang-orang beriman yang menyatakan dirinya telah berikrar atas keesaan Allah sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad saw sebagai utusannya akhirnya jatuh menjadi orang-orang yang ragu (munafik), menduakan sesembahan (syirik) dan kufur atas nikmat yang telah sampai kepadanya.

Al-Quran sebagai kitab yang wajib dipedomani bagi orang-orang beriman merupakan cara Allah untuk menerangkan harus bagaimanakah orang-orang yang telah mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya berbuat sejalan dengan yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya saw.

Adakah bahwa perintah Allah di dalam Al-Quran yang ditujukan kepada orang-orang beriman, yakni agar benar-benar bertaqwa kepada-Nya, disambut dengan sungguh-sungguh?

Dalam hal ini, Allah sesungguhnya hendak menguji mana di antara mereka (orang-orang yang telah mengaku beriman kepada-Nya) benar-benar beriman kepada-Nya.

Jika mereka benar-benar beriman kepada Allah pasti akan mengikuti apa yang telah menjadi kehendak Allah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah di dalam Al-Quran. Dan, pastilah Allah akan menepati janji-Nya, yakni mengangkat derajat mereka mulia di sisi Allah.

Mengapa Harus Ber-Wasilah?

Sebagaimana telah diterangkan oleh Allah pada QS. Al-Ma'idah: 35 di atas, bahwa derajat taqwa bukanlah derajat yang dapat dicapai menurut keinginan orang-orang beriman itu sendiri, selain untuk mencapai pada tingkat itu orang-orang beriman wajib mencari wasilah atau jalan yang dapat memperantarai untuk sampailah kepada-Nya.

Jalan atau wasilah yang ditunjuk oleh Allah adalah tentu saja orang-orang yang telah mencapai derajat taqwa yang sebenar-benar bertaqwa.

Musykil jika orang yang belum mencapai derajat atau kedudukan taqwa yang sebenar-benar bertaqwa dapat membimbing orang-orang beriman kepada derajat taqwa.

Perintah ber-wasilah tersebut sangat dapat diterima oleh akal sehat. Seseorang yang masih berada di dalam keragu-raguan di dalam hatinya akan kepastian kebenaran ayat-ayat Allah belum dapat berhujah dengan keyakinan yang sangat kuat, selain sebatas apa yang ada di dalam pikirannya.

Mengapa mereka berada di dalam kondisi yang semacam itu? Kebenaran akan firman Allah itu bersifat sangat mutlak dan sangat nyata. Orang yang masih ragu di dalam hatinya takkan sanggup untuk membuktikan secara nyata akan kebenaran firman Allah dalam kehidupan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Orang-orang yang masih ragu di dalam hatinya condong berada di dalam kesesatan. Apa maknanya? Condong kepada kesesatan itu selalu dihantui dengan bisikan setan. Secara tekstual, ayat-ayat Allah bisa saja dikuasai di dalam laci memorinya sehingga memiliki kapasitas untuk menerangkan berdasarkan ayat-ayat tersebut.

Akan tetapi, sebagaimana kita maklumi, bahwa Al-Quran itu adalah firman Allah yang telah diturunkan ke dalam hati Nabi saw yang suci tanpa ketercelaan di dalamnya. Allah telah menyucikan hati Nabi saw sebagai jiwa yang telah dipersiapkan untuk menerima wahyu yang terang benderang (Kitabun munir).

Karena itu, Al-Quran sebagai firman Allah, sekali pun keluar dari hati Nabi saw melalui mulut mulia beliau tidaklah disebut sebagai produk pemikiran Nabi Muhammad saw. Al-Quran adalah tetap firman (perkataan) Allah. 

Al-Quran adalah Kitab Suci, bukan bacaan biasa melainkan telah menjadi bacaan yang mulia. Dengan kedudukan Al-Quran seperti itu, maka Allah telah menerangkan:

"Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 7).

Itulah sebabnya, Al-Quran hanya dapat diyakini kebenarannya oleh orang-orang yang sangat yakin karena Allah telah menurunkan pengetahuan ke dalam hatinya. Diturunkan ke dalam hatinya petunjuk beserta penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu dan dapat memahami serta membedakan antara hak dan batil.

Mereka adalah orang-orang bertaqwa, yang hatinya telah disucikan oleh Allah, disebabkan mereka tidak pernah melupakan Allah di dalam hatinya. Di dalam hati mereka selalu berzikir, bertasbih dan berlindung kepada Allah dari segala bentuk kejahatan setan laknatullah 'alaih.

Pikirannya selalu merenung akan kemahakuasaan Allah dalam penciptaan langit dan bumi. Hatinya selalu mengagumi seraya berkata: "Ya Tuhan kami Engkau ciptakan semua ini tidaklah sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka, peliharalah kami dari siksa api neraka."

Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang berakal (ulul albab). Kepada mereka, Allah menganugerahkan al-hikmah dan mengajarkannya melalui perantaraan Rasul-Nya saw. (lihat QS. Ali Imran: 190-191, QS. Al-Baqarah: 269, QS. Al-Baqarah: 151).

Secara tegas, pada Quran Surat Al-Baqarah ayat 5, Allah menyebut: "Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung."

Orang taqwa tidak ada di dalam hatinya sedikit pun meragukan isi kandungan Al-Quran. Karena itu, Allah menyebut Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang bertaqwa.

Di dada mereka ada ilmu yang diturunkan oleh Allah. Karena itu, Al-Quran bagi mereka adalah ayat-ayat yang sungguh nyata. Allah swt berfirman:

"Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim." (QS. Al-'Ankabut: 49).

Karena itu, sekali lagi, berwasilah itu penting dan akan tepat jika berwasilah kepada orang-orang yang Allah telah ridha kepadanya karena kesucian hati mereka. Hati mereka lurus hanya menghadap kepada Allah dan tidak condong kepada kesesatan.

Orang taqwa adalah orang suci, maka patutlah orang-orang beriman berwasilah kepadanya. Dengan orang taqwa, orang beriman akan diajarkan cara berjihad memerangi hawa nafsu. Rasulullah saw telah menyatakan, "Jihadul akbar jihadun nafs" -- Perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu. 

Anda dapat menyimak artikel Strategi Perang Melawan Hawa Nafsu dan Inilah Tugas Kaum Taqwa dalam Memberikan Nasehat

Orang Taqwa adalah Ahli Zikir, Ahli Hikmah dan Ahli Thariqah

Penempaan jiwa untuk menjadi suci sangat membutuhkan daya juang yang sungguh-sungguh. Capaian derajat taqwa tidak semudah yang dibayangkan oleh akal pikiran, bahwa cukuplah hanya dengan menguasai pengetahuan literatur dari berbagai sumber, termasuk Al-Quran dan Al-Hadis, sehingga dapat beribadah.

Derajat taqwa tidak cukup hanya dengan mengandalkan keahlian akal pikiran atas ayat-ayat Allah dan al-hadis, selain untuk dianugerahkan oleh Allah jalan menuju taqwa sangat membutuhkan kondisi jiwa harus benar-benar bersih atau suci dari berbagai penyakit hati.

Proses penyucian jiwa sangat mutlak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tidak heran jika menyangkut jiwa berarti mencakup hati-ruhaniah dan hawa nafsu.

Takkan mudah hanya mengandalkan kecerdasan otak untuk mengendalikan hawa nafsu, selain harus ditempuh dengan penyucian jiwa melalui zikir tersembunyi di dalam hati (zikir khafi).
Allah telah menjaminkan atas orang-orang beriman dengan ketenangan jiwa atau hati jika di dalam hatinya selalu berzikir.  

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28).
Ketenteraman atau ketenangan hati sangat dirasakan terjadinya disebabkan hati langsung berzikir sebagaimana perintah Allah:

"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf: 205).
Itulah yang menjadi dasar yang sangat kuat bahwa orang beriman menjadi bertaqwa melalui proses penyucian jiwa dengan zikir yang tersembunyi di dalam hati.

Perjuangan untuk menyucikan jiwa hanya dapat dilakukan dengan bantuan seorang Guru Ruhaniah (Waliyan Mursyida). Sang Guru Ruhaniah adalah wasilah bagi orang-orang beriman yang sedang berjuang di jalan Allah hingga mencapai derajat taqwa.

Penetapan seorang wasilah sudah sangat jelas atas kehendak Allah. Beliau adalah sosok pejuang yang tak pernah mengenal lelah dan letih di jalan Allah. Hidup dan matinya hanya untuk Allah hingga seluruh ibadah yang dilakukannya bukan untuk kepentingan dirinya.

Kerinduan kepada Allah tak lagi dapat disangsikan. Sebagai seorang ahli zikir, tak ada waktu selain di dalam jiwanya (hatinya) terbangun kerinduan yang sangat. Zikirnya telah menjadikan sebuah kesadaran, bahwa tiada Tuhan yang patut untuk dicintai kecuali Allah.

Allah-lah yang menjadi  dambaannya. Saat berdiri, duduk dan berbaring tak pernah melupakan Allah. Dia-lah Allah yang selalu diandalkan dalam hidupnya.

Semua dapat terjadi karena Allah-lah yang telah menghendakinya atas kehadirannya di dunia ini untuk mengantarkan kaum mukmin ke derajat taqwa sebenar-benar bertaqwa.

Ahli zikir kini telah menjadi kekasih Allah. Sebagai wujud akan kedudukan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, maka Dia (Allah) mengajarkan lansung Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahui oleh kekasih-Nya.

Dengan bijaksana, Allah memperkenalkan Diri-Nya dan berbicara (langsung) dengan Sang Kekasih. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Ahli zikir, Sang Kekasih Allah, dengan pengajaran al-hikmah yang diberikan oleh Allah, terangkat derjatnya menjadi seorang ahli hikmah.

Dengan al-hikmah, maka tersingkaplah tabir yang menghalangi antara Allah sebagai Mawla dengan Sang Kekasih sebagai seorang hamba. Kerinduan terus terjalin hingga perjalanan (thariqah) kepada-Nya tak ada lagi batas waktu, selain di setiap keadaan dan waktu Allah selalu dirindukan, diandalkan, dan disandarkan, baik saat berdiri, duduk maupun berbaring di waktu pagi, siang, petang dan malam.

Ahli zikir yang ahli hikmah itu adalah seorang wasilah yang sangat taqwa (sangat dekat) kepada Allah hingga Dia (Allah) mendudukannya sebagai seorang ahli thariqah. *** 
Tags: , , , , ,

Ditulis oleh

Penulis adalah Imam Majelis Dzikir Tawashow siap memberikan pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan apa yang tidak diketahui akal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Popular Content

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28)

Recent Post

Dapatkan Pengajaran Al-Quran, Al-Hikmah dan Laduni Robbaniyah

Apa, Mengapa dan Bagaimana MAJELIS DZIKIR TAWASHOW?

Copyright © MAJELIS DZIKIR TAWASHOW| Designed by Templateism.com