Translate This Blog

3/01/2022

Orang yang Berhati Mulia

Orang yang Berhati Mulia



Orang yang belum mengenal hatinya sendiri takkan pernah mengerti istilah Berhati Mulia. Al-Quran menerangkan hati Nabi saw bermuatan Al-Quran (firman Allah). Karena itu, akhlak Nabi saw adalah Al-Quran. Dari situ, siapa pun umat beliau saw jika menjaga hatinya dengan berzikir secara istiqamah akan mendapati hatinya menjadi mulia.

Hati yang mulia tidak ada rongrongan iblis di dalamnya. Asma Allah, kalimat toyyibah, doa selalu menyertai hati menghadap Allah Yang Maha Mulia. Kemuliaan hati lahir karena tak pernah berhenti mengingat Allah, memuji-Nya, berlindung kepada-Nya dari godaan setan yang terkutuk.

Allah swt menurunkan ketenteraman ke dalam hati yang selalu berzikir. Kemudian Allah menambahkan keimanan ke dalamnya. 

Dalam kondisi hati (jiwa) yang demikian, maka tingkat keimanannya semakin bertambah kuat. Dihadirkan oleh Allah ke dalam hati tersebut penjagaan dari kalangan tentara langit dan bumi. 

"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS. Al-Fath: 4).

Al-Quran telah menerangkan hal demikian agar dapat diikuti orang-orang beriman jika berharap menjadi orang bertakwa sebenar-benar bertakwa kepada Allah. Betapa sayang Allah kepada orang-orang beriman.

Akan tetapi, dalam prakteknya, masih banyak orang-orang beriman tidak peduli pada perintah Allah untuk berzikir secara istiqamah di hati. Sebaliknya, minat dan keinginan memikirkan dunia lebih diprioritaskan. Masih sangat jarang hatinya sendiri diperhatikan dengan berzikir di dalamnya.

Kesenangan dunia, ternyata, lebih menarik perhatian akal untuk memikirkannya. Berjuang untuk menjadi mulia di sisi Allah sangat membebani kesenangan dunia. Pilihannya sangat bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan akhirat belum ada dalam ghirah keimanannya.

Apabila hal demikian terus dibiarkan, maka orang-orang beriman hanya beribadah menurut pengetahuan akalnya, belum mengetahui bagaimana petunjuk Allah yang diturunkan ke dalam hati untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hatinya masih belum dimuliakan sehingga menjadi gelap (tak tahu apa-apa). Otaknya boleh jadi cerdas, tapi hatinya gelap tidak bercahaya. ***
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post


EmoticonEmoticon

Posting Komentar

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner